calonjurnalis

lebih baik diasingkan dari pada menyerah pada kemunafikan

POSISI BAHASA JURNALISTIK

Oleh: Hilmi Abdul Halim/jurnal B/207400462

Kata posisi yang disandingkan dengan bahasa jurnalistik pada judul di atas dianalogikan sebagai peran. Peran yang berarti strategis karena sidnifikan dengan lingkup ruang perjurnalistikan dan lingkungan sekitarnya.

Adapun efek yang ditimbulkan penggunaan bahasa jurnalistik ini, sangat erat dan terasa aromanya dalam masyarakat yang menjadi tinjauan media jurnalistrik tersebut. Berikut ringkasan posisi bahasa jurnalistik dalam 3 poin besar, yaitu:

1. Sebagai alat komunikasi khusus media pada audience. Artinya, bahasa jurnalistik ini memang menjadi ciri khas seorang jurnalis dalam menuangkan pikirannya ke dalam media yang selanjutnya bertugas menjadi object of change kepada audience atau khalayak ramai yang dalam hal ini adalah masyarakat.

2. Menjadi laboratorium bahasa bagi masyarakat sebagai trendsetter. Karena efek dari pengglobalisasian informasi melalui media massa oleh para jurnalis yang dalam hal ini mengusung bahasa jurnalistik sebagai iconnya, tentu akan besar pengaruhnya dalam masayarakat yang menjadi tong sampah para jurnalis melemparkan sedemikian kata-kata nyelenehnya yang sebenarnya hanya relative sesuai dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar itu sendiri. Dan mau tidak mau akan terkonsumsi oleh mereka yang menyimak media massa tersebut. Hingga bahasa jurnalistik dipandang sebagai trendsetter dalam perbahasaan masyarakat. Apa yang menjadi ucapan seorang jurnalis – yang biasanya berupa istilah-istilah yang sidnifikan dalam masyarakat –, pasti sedikitnya memberikan jejak contras pada masyarakat.

3. Sebagai subsistem dari bahasa Indonesia karena bahasa jurnalistik merupakan salah satu sumber pencetusan kata-kata baru yang pada awalnya hanya dimaksudkan sebagai pemenarik bahasan dalam sebuah produk jurnalis dalam media massa.

Seperti yang telah disampaikan di awal bahasan di atas, maka media massa yang ditunggangi para jurnalis ini jelas menentukan hal-hal mendasar dalam masyarakat seperti: pikiran, gaya hidup dan yang lainnya.

Perlunya Mudik

Pulang ke kampung halaman. Hal itulah yang biasa dilakukan orang menjelang lebaran. Pulang kampung atau ya ng dikenal dengan istilah mudik,merupakan aktivitas rutin tahunan bagi sebagian orang. Orang perantauan/ yang tinggal jauh dengan keluarga biasa memanfaatkan waktu menjelang lebaran untuk pulang ke daerahnya masing-masing. Mereka memilih waktu menjelang lebaran, karena waktu itu dianggap cocok untuk pulang kampung. Apalagi untuk pekerja kantoran ataupun mahasiswa yang sibuk dengan rutinitas hariannya,pasti memanfaatkan waktu mudik tersebut. Para pemudik memanfaatkan waktu libur lebaran untuk mengunjungi dan bertemu dengan sanak keluarganya. Selain itu para pemudik pun sering memanfaatkan waktu libur panjang untuk mengunjungi tempat-tempat wisata bersama keluarganya. Mudik dianggap penting bagi sebagian orang. Untuk itulah demi kenyamanan dan keselamatan pemudik, pemerintah pun ikut berpartisipasi dalam menangani masalah mudik. Perbaikan jalan, adanya jalur alternatif. dan menambah alat transfortasi merupakan upaya-upaya pemerintah dalam menangani masalah mudik. Selain pemerintah, aparat kepolisian pun ikut serta dalam menangani masalah mudik. Para aparat kepolisian, biasanya mengamankan arus lalu lintas dan jalan yang akan dilalui para pemudik. Tidak hanya pemerintah dan aparat kepolisian, operator telepon seluler pun berlomba-lomba mendirikan pos mudik dan kemudahan lainnya demi kenyamanan dan keselamatan para pemudik. Meskipun para pemudik sudah diberi kenyamanan dan keselamatan, namun tetap saja masalah lalu lintas tidak bisa dihindari. Kemacetan, jalan yang semrawut, ataupun kecelakaan lalu lintas masih saja terjadi saat orang mudik. Hal ini tentu masalah serius yang membutuhkan perhatian khusus. Terutama bagi pemerintah dan Departemen Perhubungan.

TRADISI MUDIK YANG DIPENTING-PENTINGKAN

Mudik merupakan suatu hal yang menjadi wajib dilakukan oleh setiap umat muslim di Indonesia. Tradisi yang sebenarnya berdampak buruk pada arus populasi penduduk yang mengalami sentralisasi di satu daerah saja. Sehingga kondisi populasi suatu daerah tidak dapat diprediksikan dengan baik ketika lebaran datang dan tradisi mudik terjadi. Ledakan penduduk yang terjadi di suatu daerah dapat menurun drastis ketika semua orang melakukan mudik ke daerahnya masing-masing. Sehingga bila dihitung-hitung secara mengglobal, arus pertukaran uang atau perekonomian mengalami kelumpuhan sementara akibat penurunan jumlah penduduk secara tiba-tiba. Hal ini biasanya terjadi pada kota-kota besar yang ada di Indonesia. Seperti: Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan sebagainya.

Hal keduanya yaitu berdampak pada arus lalulintasnya itu sendiri. Jalanan akan terisi oleh kendaraan-kendaraan penduduk yang sedang mudik menuju daerahnya masing-masing. Karena semua orang melakukan perjalanan secara serempak, sehingga media jalan yang tersedia menjadi dipenuhi orang-orang. Singkatnya, macet pun terjadi. Dan tentunya menjadi hal yang paling tidak disenangi orang-orang yang sedang bepergian dimanapun. Terutama oleh pemudik yang menggunakan media kendaraan umum yang tingkat kenyamanannya terbatas oleh hak orang lain. Diperparah dengan tingkat kecelakaan yang meningkat drastis dan menambah rentetan noda hitam saat menjelang hari Idul Fitri yang agung ini.

Dan yang tersidnifikan dari semuanya itu adalah meningkatnya tingkat konsumsi masyarakat yang terjadi semenjak menjelang bulan suci Ramadhan. Mudik merupakan titik kulminasi atas kerakusan umat muslim Indonesia dalam menjalani ibadah syaum yang seharusnya menjadi momen untuk mengurangi daya nafsu kita akan hal-hal yang sifatnya keduniaan. Mudik adalah bukti pengorbanan kita untuk mengikuti hawa nafsu belaka yang tanpa kita sadari telah berdampak besar pada sektor-sektor mengglobal seperti: ekonomi, perataan penduduk dan lain-lain. Ujung-ujungnya, kesengsaraan pun menjadi titik balik dari semua hal yang sudah kita paksa-paksakan untuk memenuhi hasrat pribadi sesaat saja itu. Tidak menutup kemungkinan, orang-orang yang sengaja mudik itu menghabiskan persediaan uangnya untuk sekedar pulang ke kampung halaman. Padahal hari esok masih panjang dan terjal. Adakah lebih baik bila uang-uang itu kita jadikan modal untuk jalani hari esok saja?. Atau setidaknya bisa kita gunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat bersifat futural. Baru setelah uang yang kita kumpulkan sudah sangat banyak, tidak ada salahnya kita gunakan untuk bekal pulang ke kampung halaman.

Itulah realita umat Islam Indonesia yang bodoh. Salah siapakah semua ini?. Tidak ada yang patut dijadikan kambing hitam disini. Namun yang jelas, ini merupakan permasalahan kita bersama yang sebab dan akibatnya kembali kepada kita sendiri dan harus menjadi perhatian bersama. Tidak ada yang salah dengan tradisi mudik yang terjadi setiap tahun di Negara kita ini. Yang menjadi salah hanya cara kita menunaikan tradisi ini. Sudah cukup kita digauli hawa nafsu kita seperti ini. Think Globaly !!!. lihat dampak yang terjadi setelahnya pada keutuhan kondisi kehidupan kita sendiri. Hal yang akan terjadi bila kebanyakan orang berpindah pada saat yang bersamaan, saat dalam kondisi Negara yang sebagian orang-orangnya masih dilanda kemiskinan kronis yang berkepanjangan, sementara tingkat konsumsi yang lain mengalami kenaikan yang sidnifikan. Ironis bukan?

Oleh karena itu, diharapkan untuk tidak dulu mudik pada orang yang sementara masih berkecukupan. Bilapun itu terjadi kepada orang-orang yang mempunyai harta yang lebih. Itu di perbolehkan asal tidak berlebihan dan bila ada harta yang lebih untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat yang ada di kampung halaman masing-masing itu lebih baik. Mari kita memulai perbaiki semua ini dengan membacakan Bismillahirrohmaanirrohiim bersama-sama.

jurnal B/3/207400462

Mudik=Tradisi Indonesia

Mudik, mungkin kata itu sudah tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Kegiatan perantau untuk kembali ke kampung halaman setiap keluarga. Khusus di Pulau Jawa, mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar seperti lebaran. Jadi bagi sebagian masyarakat Indonesia kegiatan mudik menjadi kegiatan yang wajib untuk dilaksanakan setiap tahunnya.

Mudik berasal dari kata udik yang artinya desa atau kampung. Singkatnya, pulang kampung itulah mudik. Beristirahat dan berliburan bersama sanak saudara di kampung halaman itulah tujuan masyarakat untuk mudik. Mengenang dan rindu kampung halaman yang menjadi tempat kelahiran dan bermain di masa kecil menjadi satu momen yang jarang bisa dilakukan, pastinya. Setelah pergi dan merantau ke Ibu Kota khususnya untuk mecari nafkah bagi keluarga. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara di waktu mudik.

Jakarta adalah Ibu Kota Indonesia. Jakarta pula tempat para perantau untuk mencari rezeki. Kebanyakan perantau dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur bahkan luar Pulau Jawa yang mencari rezeki di Jakarta. Jadi tak heran kalau tiap tahunnya terjadi kemacetan di perlintasan-perlntasan yang menjadi jalur mudik, seperti salah satunya jalur Pantura. Hal ini disebabkan karena para pemudik bersamaan untuk mudik ke kampung halaman masini-masing di daerahnya. Seminggu sebelum lebaran menjadi waktu rawan terjadinya kemacetan.

Selain menggunakan kendaraan roda empat para pemudik juga menggunakan transportasi lain seperti Kereta Api, Perahu, dan Pesawat Terbang. Khususnya di luar Pulau Jawa para pemudik sering menggunakan Perahu dan juga Pesawat Terbang, karena berbeda pulau pastinya.

Tingkat kecelakaan pada saat mudik naik. Hal ini disebabkan pengemudi kurang hati-hati mengendarai kendaraannya. Selain roda empat, tingkat keselamatan penumpang pun rendah khususnya Kereta Api. Banyak penumpang Kerata Api yang kurang hati-hati bagi keselamatan dirinya. Atap gerbong Kereta Api menjadi tempat penumpang jika isi gerbong-gerbong sudah penuh. Asalkan sampai ditujuan, mungkin pemikiran seperti itu yang menjadi seseorang nekat naik atap gerbong Kereta Api. Padahal hal seperti itu, akan membahayakan keselamatan penumpang.

Jadi, mudik itu penting bagi sebagian masyarakat Indonesia. Yang dijadikan tempat untuk beristirahat dan berliburan bersama sanak saudara yang mungkin sulit didapat pada waktu-waktu biasanya. Dan pemudik juga harus lebih hati-hati dalam perjalanan pulang ke kampung halaman. Karena keselamatan seseorang lebih penting. Tradisi mudik di Indonesia tak akan bisa pudar dan hilang karena tradisi ini sudah berdarah daging di masyarakat.(MIR)

BUDAYA BERTARAWIH…

Puji dan syukur kehadirat illahirobbi Alloh SWT yang telah menciptakan satu bulan penuh rahmat serta magfirah yang luar biasa melimpah ruah khusus diberikan-Nya kepada umat Islam yang mau bersusah payah menahan segala dahaga lahiriah maupun batiniahnya semata-mata hanya karena Alloh SWT. Dan tentu tidak hanya sebatas mengosongkan perutnya di siang hari, namun juga serentetan amal ibadah yang disunanahkan oleh Rosullulloh SAW guna menambah afdhol bulan yang suci ini dan serta menghias paras nurani kita menjelang hari kemenangan yang senantiasa membuat semua daya kita ruahkan – secara matrealistis – untuk menambah semarak hari yang hanya kita peringati 1 kali dalam setahun ini.

Sejatinya, segala amal perbuatan itu tak lebih karena perintah Alloh melalui Rosulnya semata. Bukan karena factor sekunder yang bersifat matrealistis dan duniawi semata. Namun sudah menjadi fitrah seorang cucu adam saat ini untuk lebih mementingkan hal yang menjadi cangkang dari perintah yang telah ditentukan. Bukan lebih kepada apa yang ada di dalamnya. Perintah agama yang mereka terima dari warisan nenek moyang atau perintah yang diturunkan atas nama kebiasaan kakek nenek mereka, ayah ibu mereka, kakak dan saudara terdahulu mereka saat itu. Tidak dipandang secara vertical keatas – kepada ketentuan Alloh – melalui apa yang telah Rosulullah contohkan dalam sunnah-sunnahnya. Sehingga perintah agama yang putih pada awalnya, kini mulai terbias dengan hasil pemikiran manusia yang tidak merujuk kepada ketentuan awalnya. Kebiasaan menambah-nambahi ataupun mengurang-ngurangi segala ketentuan illahirobbi seperti dalam menjalankan solat, puasa atau sebagainya yang sedikit demi sedikit tidak disadari mengubah pola fikir mereka yang kini lebih mementingkan ritual peribadatannya dibandingkan dengan makna yang dari awal kita harapkan. Seperti contoh: kebiasaan masyarakat menyambut bulan suci ramadhan dengan kegiatan “munggahan” yang sebetulnya tidak menjadi rukun maupun suatu keharusan dalam menjalankan ibadah puasa. Dan karena itu tidak seharusnya dibuat berlebih-lebihan. Kegiatan seperti itu meskipun bermaksud baik, seyogyanya tidaklah mesti dijadikan suatu ritual rutin yang membudaya. Karena secara tidak disadari, di beberapa generasi kemudian, orang-orang akan lebih menggila dalam melakukan hal-hal number kesekian seperti itu, dibandingkan perintah utamanya yaitu melaksanakan puasa ramadhan.

Hal ini ternyata secara tidak disadari telah merambah kepada hal-hal lain seperti salah satunya ialah “ budaya bertarawih” dalam masyarakat modern seperti saat ini. Seperti yang telah kita ketahui, budaya yang berarti merupakan hasil dari pemikiran manusia ini secara terpaksa harus bersanding dengan kata “tarawih” yang merupakan sunnah Rosul dalam mengisi bulan suci ini. Ibadah tarawih atau yang berasal dari istilah qiamul layl ini dahulunya merupakan amal ibadah pelengkap bulan puasa yang karenanya – dan tanpa mengurangi keseriusan serta kefokusan dalam melaksanakan ibadah syaum – bulan ramadhan ini terasa lebih bercorak karena setiap individu muslim bisa mengisi malam harinya secara bersama-sama melakukan solat sunat di mesjid-mesjid ataupun rumahnya masing-masing.

Kenyataan ini kini bergeser menjadi sebuah tradisi ber-ramadhan yang dipandang sama wajibnya seperti berpuasa. Itulah mengapa Rosul saja hanya melakukan tarawih berjamaah di mesjid selama 3-4 malam saja. Selebihnya beliau lakukan di kediamannya sendiri. Hal ini dilakukan Rosul agar tidak terjadi penyetaraan statusnya menjadi seperti ibadah syaum di siang harinya. Memang tidak dianggap buruk pula sepanjang solat tarawih ini dilakukan sesuai ketentuan hukumnya yang dimana tarawih ini dilakukan sebagai sarana istirahat kita sembari beribadah.dengan kata lain, solat ini merupakan solat yang dianggap santai dan rileks. Budaya yang saya sorot disini ialah kebiasaan lain yang kini hamper mengubah citra natural dari bertarawih itu sendiri. Seperti pelaksanaannya yang terlalu cepat, dijadikan ajang pergaulan anak-anak remaja ataupun tempat dimana ibu-ibu maupun bapak-bapak berkumpul untuk bergosip ria saja. Jadi, sudah tertanam pada hati setiap individu yang akan melaksanakan amalan tersebut untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan kurang bermanfaat seperti itu dibandingkan niat tulus untuk menjalankan sunnah Rosul itu sendiri. Dan bila dibiarkan, jelas akan membuat solat tarawih yang sunat ini menjadi dianggap wajib hanya karena riual-ritual pelangkapnya yang justru akan mengkerdilkan makna dari bertarawih itu sendiri. Akhirnya kelak orang akan pergi berbondong-bondong pergi ke mesjid di malam hari hanya untuk menggosip, ajang cari jodoh para remaja dan tempat bermain anak-anak ingusan yang mereka bawa. Selebihnya, tarawihnya menjadi hal ke 2 yang akan mereka kerjakan itu pun bila masih purun melakukannya setelah energy dan niatnya terkuras oleh kegiatan-kegiatan tidak jelas sebelumnya.

Salah satu contoh dari “pembudayaan” tarawih ini saja sudah membuat ramadhan ini terasa berkurang kekhidmatannya. Belum dari budaya menjelang bukanya (ngabuburit), ritual main petasannya, ritual saat mnjelang atau saat lebaran dan lain-lain, yang semakin dan semakin saja menjadikan makna ramadhan itu sendiri seperti buah yang isinya kecil mamun bercangkang tebal. Mungkin di tahun-tahun berikutnya, ramadhan itu menjadi merupakan bulan ritual karena banyak hal “asik” yang kita lakukan sebagai dalih menambah corak dalam mengisi bulan suci ramadhan ini. Jadi tidak salah bila prilaku umat muslim Indonesia jika tiba saat bulan suci ramadhan, menjadi lebih konsumtif dibandingkan dengan bulan-bulan lain yang sejak pagi sampai sorenya diperbolehkan untuk mengisi perut dan syahwat sepuasnya.

Tentu ini merupakan masalah kita bersama. Karena kita juga merupakan agen nyata untuk anak cucu kita selanjutnya. Kuncinya hanyalah berusaha untuk lebih konsentrasi, focus dan menomersatukan citra natural dari sebuah perintah Alloh. Jangan mendahulukan nomer ke sekian terlebih dahulu dalam beribadah maupun dalam melakukan hal baik lainnya. Sehingga, ibadah tidaklah dipandang sebagai budaya melainkan murni sebuah perintah dari yang maha kuasa.

funny little dream – it must been you …

it must been you

that i’ve been dreaming

and i’ve been waiting

all day

it must been you

that i’ve been looking

and i want to tell you

the truth

uuu

uuu

since i found you that day

my life has turning

and im been happy all day

since you got me that day

my dream is real

and youre always on my mind

all the time

it must been you

that i’ve been dreaming

and i’ve been waiting

all day

it must been you

that i’ve been looking

and i want to tell you

the truth

since you left me that day

i feel so lonely

without you here

by my side

since you tell me that day

when you are say

that you want to be alone

now youre gone

im alone

ive been waiting for you

but youre gone

im alone

and youre gone

ive been waiting for you

daf after day

and night

and day

and morning

but youre still gone

now youre gone

im alone

ive been waiting for you

but youre gone

im alone

and youre gone

ive been waiting for you

but youre gone

im alone

when youre gone

ive been waiting for you

but youre not come

Older entries »